Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Minggu, 21 Oktober 2012
Cerdas Cermat
Cerdas Cermat

Cerdas Cermat

"Dua puluh delapan!" ucap Egal setelah yakin dengan hitungannya. Ya, hari ini, tepatnya sekarang, Aku, Egal, dan Putria sedang mengikuti 'LCCUN tk K' alias Lomba Cerdas Cermat Ujian Nasional tingkat kabupaten. Belum, belum final. Masih seleksi tertulis.

"Yakin?" tanyaku pada Egal.
"Yakin seribu persen," katanya yakin seyakin-yakinnya.
"Tapi kalau hitunganku dua puluh sembilan," Putria menyahut.
"Coba kita hitung lagi," usulku.

Sret, sret, sret. Lima kali lima... Lalu ditambah tiga belas... Dikurangi sembilan...
"Tuh, kan, dua puluh sembilan," ucap Putria.
"Eh, iya, maaf," kata Egal sambil menaruh pulpennya ke meja. Mukanya merah. Mungkin, malu!
"Kalau dua puluh delapan, yang satu kemana Gal?" ledekku.
"Hehe, sedang berlibur ke Amrik," hiburnya.
"Sudah, sudah. Ayo kita selesaikan soal matematika ini. Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi," kata Putria.

Hmm, benar. Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi. Satu per satu soal kami selesaikan. Tentunya, dengan kerja sama dan menghargai pendapat teman. Ah, tak terasa, soal terakhir sedang kami kerjakan.

"Hitunglah luas lingkaran yang diameternya 21 cm," Egal membaca soal.
"Berarti kita menggunakan phi tiga koma satu empat?" tanya Putria.
"Iya, karena jari-jarinya sepuluh koma lima senti, bukan kelipatan tujuh. Ayo kita hitung!" ucapku semangat.

Sret, sret, sret. Kertas corat-coret kami penuh dengan angka. Ada coretan tadi, menghitung KPK dari 48 dan 64. Hasilnya, 16. Ada coretan yang tadi lagi, menghitung debit dari sebuah air terjun. Dan ada juga, coretan yang sekarang. Hasilnya... Tiga ratus empat puluh enam koma lima.

***

"Teet...!"
Hah? Waktunya habis. Untunglah, kami sudah menyelesaikan soal itu. Aaaah... Lega...
"Ayo ayo, soal dan lembar jawabannya dikumpulkan," perintah para juri. "Yang sudah mengumpulkan, silahkan keluar," tegasnya lagi.

Aku, Putria, dan Egal segera membawa soal dan lembar jawabannya ke depan. Setelah itu kami keluar dan menemui Bu Nur, guru sekaligus yang melatih kami sebelum LCCUN dilaksanakan.

"Bagaimana tadi? Susah-susah tidak?" tanya Bu Nur pada kami.
"Yaa, tadi ada yang sedikit bingung, Bu. IPA," ucap Putria yang disambut anggukan olehku dan Egal.
"Soalnya apa?" tanya Bu Nur kembali.
"Apa tadi, yah? Oh iya, getah pohon aren dapat menyembuhkan penyakit apa. Terus kita menjawab sariawan dan radang paru-paru, Bu. Betul tidak?" sahutku.
"Betul, kok. Terus apa lagi yang bingung?"
"Tidak, Bu. Itu saja."

***

Teet...!
"Para peserta LCCUN harap segera masuk ke ruang aula. Pengumuman akan segera dilangsungkan," hei, ada pengumuman dari para juri.
"Nah, itu sudah ada pengumuman. Ayo kita ke aula," ajak Egal.

"Eeeh, tunggu dulu, kita berdoa dulu, supaya kita bisa masuk final. Berdoa, mulai," Bu Nur memimpin doa.
 Dalam hatiku, aku meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa, "Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku mohon Ya Allah, semoga aku bisa masuk final dan dapat meraih juara. Juara berapa pun, aku akan tetap bersyukur. Aku tidak akan sombong. Aku akan bekerja keras untuk selanjutnya. Amin Ya Rabbal 'Alamin."

"Selesai," Bu Nur menutup doa. "Nanti kalau tidak masuk final tidak apa-apa, ya? Ingat, ini sudah di tingkat kabupaten. Ibu sudah bangga dengan prestasi kalian. Baiklah, ayo kita masuk ke dalam!"
 "Ayo!" ucap kami serentak.

***

Para peserta dan guru sibuk mencari-cari nama SD mereka. Ruang aula seperti lautan manusia yang berhamburan di sana-sini. Aku, Putria, Egal, dan Bu Nur mencari kertas urutan nilai.
"Itu di sana!" teriakku. Kami segera menuju tembok dekat juri yang kutunjuk tadi.

Bu Nur mengurutkan dari bawah. Ya, ranking terbawah. "Yey, ranking terbawah bukan dari SD kita, eh kecamatan kita! Emm...12,11,10,9...Nadia! Putria! Egal! Alhamdulillah Ya Allah...! Terima kasih Ya Allah...! Sini kalian! Lihat ini!"

"Ada apa, Bu?" ucapku penasaran.
"Kita ada di urutan tiga dan masuk ke final!"
"Oh ya? Alhamdulillah Wasyukurillah... Terima kasih Ya Allah! Doaku terkabul...!" teriak Putria dan Egal.
"Sudah, sudah. Ayo kita belajar lagi agar nanti lancar sewaktu menjawab soal-soal dari juri!" ajak Bu Nur.
Ah, senangnya!

***
Saat final...

"Ya, tibalah saat-saat yang paling menegangkan! Saya akan membacakan 10 soal rebutan untuk kalian. Sudah siap?"
"Siap!" teriak ketiga regu, termasuk regu kami.
"Soal pertama, Bahasa Indonesia. Perbaiki kalimat ini agar menjadi kalimat yang efektif! Kepada para hadirin bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian kami mohon untuk berdiri."

Teeet! Kupencet tombol itu. Ah! Sayang, sudah ada yang menjawabnya!
"Hadirin, kami mohon untuk berdiri," jawab Regu A, dari kecamatan Karangrejo.
"Bagaimana juri?" Kak Iwan, sang pembawa acara itu menanyakan jawaban regu A kepada juri.
"Jawaban benar. Nilai seratus," ah! Benar! Tepuk tangan riuh memenuhi aula. Aduh, aku kurang cepat!
"Baiklah, soal ke dua, IPA. Apa yang dimaksud dengan kemampuan ekolokasi?"

Teeet! Huh! Kali ini regu B. Semoga jawabannya salah!
"Kemampuan ekolokasi adalah kemampuan memperkirakan jarak benda berdasarkan bunyi pantul. Kemampuan ini dimiliki oleh kelelawar," katanya. Duuh... Dag dig dug der hatiku...!
"Jawaban benar. Nilai seratus," ah! Tepuk tangan kembali memenuhi ruang aula. Huuuh! Kenapa bukan reguku, sih?

***

Hingga soal kelima, reguku masih meperoleh nilai donat. NOL. Ah, aku malu. Aku... Aku... Aaaaah! Tidak! Aku harus bisa! Aku yakin! Aku bisa! Bisa! Bisa! Bisa! Ini kesempatan emas untukku dan kedua temanku. Aku harus bisa! Harus! Harus! Haruuuus!

"Soal keenam. Matematika. Hitunglah luas trapesium dengan A = 3 cm dan B = 7 cm. Juga tingginya 5 cm!"
"Ayo Nad! Ayo! Kamu bisa!" gumamku. Hitung dan hitung, hasilnya...

Teeet! "Dua puluh lima!" teriakku. Semua diam. Heran.
"Jawaban salah. Jawaban yang betul adalah 30. Nilai Nol."
"Lo, betul kan? Luas trapesium kan a+b:2xt! 3 + 7 = 10, dibagi dua lima, dan dikali lima dua puluh lima!" protesku pada juri. Suasana kembali hening. Tak bersuara.

"Maaf, anda salah. Jawaban yang betul adalah 30. Dikurangi 5. Ya, dua puluh lima. Nilai seratus!" waaaa... Betapa senangnya hatiku. Apalagi, setelah soal terakhir...

"Dan, juaranya adalah..." ucap salah seorang juri.
"SDN 1 Jatilawang dari Kecamatan Jatilawang! Selamat!" sambung juri yang lainnya. Tunggu. Juara? Kami? Apakah ini mimpi?
"Ayo, silahkan maju ke depan, Nadia Firza Faradina, Putria Wahyu Wigati, dan, Egal Pratama Putra!"

Benarkah? Waaaaah... Tepuk tangan 'memenuhi' ruang aula. Tapi... Di mana Bu Nur?
Ah, kulihat dia sedang menangis terharu di belakang.
"Baik, selamat untuk Regu C! Ini pialanya..."
"Tidak. Tidak. Ini bukan piala kami. Ini piala untuk Bu Nur..." seketika air mataku, Putria dan Egal menetes.

Kuberikan piala itu kepada Bu Nur. Guruku yang amat sabar, baik, dan ulet mengajari kami sehingga bisa seperti ini. Terima kasih Bu...Terima kasih juga Ayah, Ibu, dan keluarga yang mendoakan kami sehingga sekarang bisa berada di sini... Juga Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengabulkan doa kami...

Teman, sebenarnya aku akan menghadapi LCCUN tk. Kecamatan Sabtu depan, 27 Oktober 2012. Aku dan teman-temanku yang di atas akan berusaha agar bisa terus berlanjut ke kabupaten. Doakan ya, semoga cerita di atas bisa menjadi kenyataan. Amiien.

Nadia Faradina
Nadia Faradina

14 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG