Home - Klinik Cerita - Cerita Kamu
Cerita Kamu
Kamis, 18 April 2013
Ibuku, Idolaku!

Ibuku, Idolaku!

"BLUK!" Rifa menghempaskan tubuh ke sofa kamarnya. Wah, rasanya asyik banget! Rifa menyalakan AC dan segera menghela nafas, lega. Rasanya senang sekali bisa kabur dari bangun yang membuatnya pusing tujuh keliling! Eh, bukan artinya bolos, lho, maksudnya itu, PULANG!

"Huh! Hari panas gini, tugas tadi disekolah pada numpuk, emang gak capek!" gerutu Rifa sambil membetulkan kuncirnya. "Guru-guru enggak habis pikir! Tanganku pegal!" omel Rifa.
"Rifa sayang..., mau limun?" tanya Ibu sambil memberikan nampan dengan segelas penuh limun yang lezat dan dingin. "Ibu mengerti kalau kamu capai," hibur Ibu.

"Wah, mau, dong!" jawab Rifa dan mengambil gelas limun buatan ibunya.

"Memang, Bu! Guru-guru seperti tidak punya pikiran, memberiku tugas yang banyak!" kata Rifa. "Ibu tahu saja kalau aku lelah!" katanya.

"Hahaha..., biasanya kamu teriak gini habis pulang: 'Halo dunia santai menyantai!' dan langsung ke kamar. Sekarang, kan, enggak! Juga keringatmu kayak banjir!" canda Ibu.

"Hahaha.., apa menurut Ibu kalau aku teriak begitu aku kayak orang gila?" tanya Rifa sambil meneguk limunnya. Ibu duduk rapih dekat putri bungsunya itu.

"Hahaha.., ya enggak, dong! Dulu, pas kamu satu tahun dan kakakmu 1 SD, dia lebih parah lagi.., dia loncat-loncat dan jumpalitan, lalu berteriak dengan semangat: "DUNIA BOORING-KU! PRESIDENMU SUDAH PULANG DARI GEDUNG KESESATAN!". Enggak sopan banget, kan?" kata Ibu.

"Wah, emang, Bu!" kata Rifa langsung tertawa. "Bu, aku bingung, Kamis nanti, aku disuruh nyeritain, siapa idola Rifa, aku bingung! Idolaku siapa!"

"Rifa kan, suka One Direction, terus, kalau Rifa mandi suka teriak-teriak nyanyi lagu One Direction, kan?" goda Ibu, "kenapa tidak menceritakan betapa suka kamu pada One Direction?"

"Oyaya!" kata Rifa menepuk dahinya. "Nanti aku mau buat karangan tentang One Direction! Aku harus mikir, soalnya nanti kita buat karangan lalu baca dikelas," jelas Rifa.

"Oh, kenapa enggak besok aja? Rifa nulis dulu dikertas lalu menulis tentang idola Rifa," jelas Ibu, "maksud Ibu, sekarang Rifa menulis dulu dikertas, baru di komputer. Nanti, Ibu print."

"Wah, makasih Bu!" kata Rifa melonjak bahagia dan memeluk ibunya dengan senang dan gembira. Perlahan dia melepaskannya.
"Nah, sekarang kamu makan dulu, nambah stamina gitu!" kata Ibu sambil membelai rambut Rifa. "Ada sate dan lontong favorit Rifa, loh! Juga Jus Mangga. Enak, kan?" kata Ibu.
"Itu baru disebut santapan yummy!" seru Rifa.

Setelah makan...

"Wah, perutku kenyang! Ibu seperti masterchef saja!" puji Rifa sambil memberi jempol disetiap tangannya. "Two thumbs for Mom!" serunya senang.

"Ibu bukan masterchef , sayang! Ibu enggak bisa bikin pizza, ingat dulu? Pizza buatan Ibu gosong!" kata Ibu membuat Rifa tergelak. "Apalagi saat itu ada sepupumu, Fifi. Dia makan yang gosongnya terus muntahin, kan?"

"Hahaha! Ibu kayak pelawak di TV aja!" canda Rifa. "Kayak Sule sama Aziz Gagap itu!" kata Rifa.
"Hahaha..., eh, emangnya iya?" tanya Ibu. "Rifa, kenapa kamu tidak membuat dulu karangannya?" usul Ibu. "Supaya masih bisa main, kan, sama sahabatmu, Laras?"

"Oyaya! Kalau aku bikin nanti, aku enggak bisa main, kan?" kata Rifa. Ibu membelai rambut Rifa. Rifa duduk di pangkuan ibunya. Rifa merenung.

Ibuku seperti pelawak di TV, yang selalu membuatku tertawa ngakak. Ibuku seperti masterchef di restoran bintang lima yang membuatku tergiur. Ibuku seperti seorang artis yang memiliki suara merdu. Ibuku adalah ibu yang multitalent , tidak bisa dimiliki siapapun. Tidak mungkin ada yang bisa menyerupai Ibu, pikir Rifa.

"Ibu. Ibu tahu, enggak, siapa idola sejati Rifa?" tanya Rifa.
"Idola Rifa itu, Ibu! Ibu sebagai pelawak TV yang selalu membuatku tertawa. Ibu seperti masterchef di restoran bintang lima yang membuatku tergiur. Ibu seperti artis bersuara merdu itu... Ibu adalah idolaku! Ibu tidak seperti ibu lainnya. Karena ibu satu-satunya milikku yang tak mampu digantikan!" kata Rifa. Ibu terharu sekali, air matanya menitik. "Ibu menangis sedih atau terharu?"

"Terharu, dong, sayang. Masa enggak bangga sama anak kesayangan yang ternyata begitu mengidolakan Ibunya?" kata Ibu sambil memeluk Rifa.
"Tak ada orang yang bisa mengantikan Ibu!" kata Rifa.

Pada hari Kamis...

"..., jadi begitulah kawan-kawan. Ibuku adalah idolaku yang tak mampu digantikan oleh siapapun!" kata Rifa membaca karangannya. Bu Risty dan baik semua murid bertepuk tangan. Rifa meras bangga mendapat banyak tepukan lebih dari si juara kelas, Penny.

"Rifa, selamat, ya! Kamu mendapat nilai terbagus, 100! Ibu suka dengan karanganmu, sangat menyentuh Ibu. Padahal banyak yang menceritakan tentang Girls Generation, 2PM, Super Junior, One Direction, Selena Gomez, Justin Bieber, Bruno Mars, Miley Cyurus, Elizabeth Gillies, Victoria Justice, pokoknya banyak! Namun, ternyata idolamu paling bagus," kata Bu Risty.
"Wah, makasih, ya, Bu!" senang Rifa.

Ibu, kalau Ibu enggak kayak gini. Pasti aku tak akan mendapat nilai tertinggi, gumam Rifa senang dengan hati yang berbunga-bunga.

Rizqia Amani
Rizqia Amani

52 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG