Home - Klinik Cerita - Cerita Kamu
Cerita Kamu
Selasa, 29 Januari 2013
Pekerjaan Ayah
Pekerjaan Ayah

Pekerjaan Ayah

Ayahku bisa dideskripsikan bahwa dia berkulit hitam. Rambutnya kriwil seperti mie keriting. Di wajahnya terdapat sedikit luka bakar.

Luka Bakar? Ya. Waktu itu, ayahku sedang bekerja. Nanti akan kuberitahukan ayahku bekerja sebagai apa, karena sekarang aku masih malu. Dan, akhirnya, muka ayahku terbakar sedikit karena sedang melakukan "pekerjaan"nya.

Sebetulnya, aku malu. Karena, biasanya, pekerjaan ini dilakukan oleh wanita. Ya, begitulah. Kalian sudah tahu, kan? Bekerja di dapur. Tugasnya memasak makanan untuk pelanggan. AKU MALU.

Ketika teman-temanku mengetahui pekerjaan Ayah, mereka mengejekku sepuas-puasnya.

"Hey! Luna Rizqia Widiandito! Ayahmu feminin banget, sih! Cari kerjaan, kerjaan cewek! Kaya ayahku, dong! Jadi direktur, apa kek...." begitu kata salah satu temanku, Muhammad Ihsan Fadhil.

Tidak hanya laki-laki, teman perempuanku juga banyak yang mengejek. Kebanyakan, ayah mereka jadi insinyur, direktur bahkan dokter. Pekerjaan ayah mereka memang hebat-hebat. Sangat hebat malah.

"Pamer," begitu gumamku.

Walaupun aku malu dengan pekerjaan ayahku, aku tetap bangga. Aku bangga memiliki seorang ayah yang hebat. Ayah yang bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Ayah juga bisa memimpin keluargaku dan dapat menjadi tulang punggung keluargaku. Bahkan, yang lebih hebatnya lagi ayah bisa mencari nafkah. Belum tentu ayah-ayah yang lain dapat mencari nafkah.

Siapa tahu, ada yang tidak diterima di perusahaan, atau dikeluarkan dan siapa tahu kantornya malah bangkrut. Oleh karena itu, kalian juga harus bangga dengan pekerjaan apapun yang dikerjakan oleh orangtua kalian, apalagi ayah kalian. A

yah kalianlah yang juga berjuang ketika kita dilahirkan. Bagaimana? Uang untuk biaya kita dilahirkan? Siapa yang mencarinya? Ayah, kan? Lalu, yang mengantarkan/menggotong bunda ketika kita akan dilahirkan? Ayah, kan? Pasti ayah bakal panik, kan?

Kemudian, siapa yang akan mencari uang untuk biaya sekolah kita nanti? Ayah, kan? Oleh karena itu, syukurilah semua pekerjaan ayah kalian selama itu masih tergolong pekerjaan yang halal. Bagaimana? Apa pekerjaan ayah kalian, hihihi?

Nadira  Fitria  Adzani
Nadira Fitria Adzani

51 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG