Home - Klinik Cerita - Cerita Kamu
Cerita Kamu
Senin, 03 Desember 2012
Someone
Someone

Someone

"Tik...tik...tik..."

Hujan yang membasahi bumi pada pagi hari membuatku kedinginan di ranjangku.

"Hoahm.." Aku menggeliat kedinginan. 5.30. Malas rasanya mandi di pagi hari, tapi I must do it . Dengan setengah mengantuk aku berjalan menuju kamar mandi. Brr... Dingin banget airnya, SUER! Oh ya, aku lupa. Kenalin, namaku Claudya Clath. Aku bersekolah di Luxury Junior High School Clath kelas 2 SMP. Ayahku yang mempunyai sekolah Luxury Junior High School Clath . Aku tergolong orang kaya.

Perkenalannya cukup sampai di sini, aku ingin berganti baju. Aku duduk di meja riasku. Aku memakai bedak yang rata, lipstik yang tidak terlalu kentara, mascara, dan lainnya. Aku menatap wajahku di cermin. Wajah ini sangat mirip dengan seseorang, someone . Tak sadar, sebutir air mata membasahi pipiku. Melarutkan bedak yang sudah kupakai. Segera aku menghapusnya dan memperbaiki bedakku.

Aku menuruni tangga dengan lambat. Aku menuju ruang makan. Sepi. Makanan sudah ada di atas meja. Aku mengambil nasi, ayam, dan kentang goreng secukupnya. Aku memakan sarapanku dengan perlahan. Hanya suara garpu dan sendok yang memecah kesunyian. Setelah selesai, aku membiarkan piringku berada di meja makan, nanti ada Mbak yang mencucinya.

Aku berjalan mendekati pianoku. Tempat di mana aku mencurahkan isi hatiku melewati lagu. Aku duduk di kursi piano dan mulai memainkan tuts tuts piano dengan lembut. Lagu No Woman No Cry dari Bob Marley mengalun indah. Air mataku terus mengalir saat aku memainkan lagu ini. Dulu, aku sering duet dengan seseorang, someone ...

Akhirnya jam menunjukan pukul 6.30. Aku berjalan ke luar rumah dan memanggil Pak Sobir, supirku.

"Non, sebelumnya maaf, ya, Non. Kenapa mata Non merah? Habis nangis ya, Non?" Pak Sobir bertanya heran.

"Sudahlah, Pak. Diabaikan saja. Tolong antar saya ya, Pak," jawabku mengabaikan pertanyaan Pak Sobar.

"Baik, Non." Pak Sobar hanya menurut dan mengantarku ke sekolah.

 - Luxury Junior High School Clath -

Aku berjalan gontai. Setiap orang yang menatapku, pasti berwajah heran. Dan sangat mudah ditebak, pasti dalam benak mereka berpikir, "Mengapa Claudya menangis?" atau "Ada apa dengan sang pemilik sekolah?" Aku hanya mengabaikan wajah-wajah yang keheranan itu sampai...

"Claudya! Kamu kenapa nangis, sih? Akhir-akhir ini kamu nangis mulu kerjanya. Ada apa, Dya?" Corel menghampiriku.

"Enggak apa-apa kok, Rel." Aku tersenyum lemah.

"Mau tissue?" Corel menawarkan.

"Terima kasih, enggak usah. Aku punya kok." Aku tersenyum kecil dan berjalan pelan menuju kelasku.

Seperti dugaanku, semua yang ada di kelas menatapku heran. Aku terus mengabaikannya. Aku menyimpan tas dan berjalan menuju balkon kelas. Aku memandang pemandangan yang indah dan sejuk. Keindahan dan sejuknya alam membuat hati semua orang akan damai, tenang, tenteram.

Tapi, walaupun begitu, hatiku tak dapat terobati. Bukannya merasa damai, aku malah menangis seorang diri. Membiarkan angin berembus menerpa wajahku dan rambut panjangku. Aku tak habis pikir, mengapa dia pergi begitu cepat. I still need a warm hug from, someone ...

Bel masuk berbunyi nyaring. Sepanjang pembelajaran, aku tidak menyimak dengan baik. Entah mengapa, kata-kata yang masuk dari telinga kananku keluar begitu saja melalui telinga kiri. Begitu pula dengan pelajaran yang lainnya hingga bel pulang berbunyi nyaring. Semua anak bersorak gembira dan meninggalkan kelas. Aku masih berdiam diri di kursi tak bergerak, tak berkutik.

Seseorang menepuk pundakku. Aku menatapnya, Corel. "Claud, udah waktunya pulang. Yuk!" Dia mengajakku pulang. Aku menggenggam tangan Corel.

"Rel, aku mohon. Kamu menemaniku di rumahku nanti. Please .." Aku memelas. Corel hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum yang mengingatkanku pada seseorang, someone ...

Pak Sobir sudah ada depan gerbang. Aku pun masuk ke dalam mobil dengan Corel. Sepanjang perjalan, tidak ada yang bersuara. Hanya lagu tenang melarutkan kesedihan yang mengalun.

Sesampainya di rumahku, aku mengajaknya berkeliling rumahku. Memang, Corel tak pernah ke rumahku. Dia hanya berdecak kagum setiap aku menunjukan kamar demi kamar, kolam renang, taman, dan lainnya. Sampai tiba di ruang musik...

"Claudya! Keren banget ruang musikmu. Lebih bagus daripada ruang musik sekolah. Wauw!" Corel terus berdecak kagum. Aku membiarkannya melihat ruang musik ini. Aku menuju ke arah piano dan memainkan lagu No Woman No Cry lagi. Corel tersentak dan menatapku. Dia melihatku berlinang air mata dan menghampiriku.

"Claudya? Kamu kenapa menangis lagi?" Corel bertanya prihatin terhadapku. Aku tidak menjawab. Aku terus melanjutkan permainan pianoku. "Hhh.." Aku mendesah pendek setelah aku selesai memainkan pianoku. Memang lagu No Woman No Cry itu lagi mengasyikkan. Tapi, kalau versi pianonya...aku mau menangis terus karena mengigat seseorang, someone ...

KROKK!! Aku mengernyitkan kening. Bunyi apa itu? Lucu sekali bunyinya.

"Hmmptt.. Hahaha!" Lepas sudah tawaku mendengar bunyi aneh itu. Baru kali ini aku tertawa kembali semenjak kehilangan someone .

"Eh, kamu dengar ya, Claud?" Corel berkata malu-malu.

"Haduuh, iya lah, Rel! Bunyi sekeras itu gimana gak denger. Hahaha!" Aku tertawa terus.

 "Yee, Claudya ketawa mulu nih, ah! Gak seru!" Corel balik badan.

"Adududuh. Maaf, Rel. Lucu banget, sih. Hihi.." Aku masih cekikikan. Tangisku terganti dengan tawa begitu cepat.

"Habis...aku laper, sih. Hehe.." Corel pun mengaku.

"Oh, kalau lapar, bilang dari tadi, dong! Kamu ke ruang makan aja. Di situ sudah ada makanan, kok. Aku masih mau main piano dulu." Aku tersenyum terhadapnya.

Setelah Corel pergi, aku menuju ke sebuah box kayu kecil yang hiasannya terukir sangat indah. Box ini tempat aku menyimpan barang barang rahasiaku. Termasuk, diary -ku. Aku mengambil diary -ku yang bersambul anak perempuan yang memegang surat lalu diikatkan pada sebuah balon.

Aku mulai menulis pada secarik kertas di buku diary -ku

Dear Sweet Girl ,

Hai, hari ini aku membawa teman sekolah untuk menemaniku. Namanya, Corel. Anak yang pertama kali membuatku tertawa kembali, bersenang senang kembali setelah seseorang pergi. Aku masih sedih setelah kepergian someone . Tapi, semenjak aku berteman, dekat dengan Corel, kesedihan tentang seseorang itu lepas begitu saja. Aku juga berpikir, tidak mungkin aku menangisinya setiap hari, sampai aku menyusulnya. Dan, mungkin ini saat yang tepat untuk memberi tahu semua rahasiaku pada Corel. Ya, inilah saatnya.

Claudya Clath

Aku menyimpan kembali diary -ku pada box kayu kecil bertepatan saat Corel datang menghampiriku.

"Claudya? Apa yang kamu simpan pada box itu?" Corel bertanya heran dengan mulut yang... membuatku tertawa kembali. "Hahaha! Corel, Corel, Corel. Hahaha.." Aku tertawa kembali.

"Ada apa, sih? Baru juga aku datang, kamu sudah ketawa lagi. Kenapa sih aku?" Corel memonyongkan mulutnya yang membuatku tak bisa bernafas saking lucunya.

"Haduuh, capeek! Haduh.. liat tuh mulut kamu! Penuh kecap, nasi, sambel yang menggantung di mulut kamu. Hihihi..." Aku masih melanjutkan tawaku.

"Ehm.." Seketika aku berdehem.

"Ng...mau ke balkon?" Aku mengajak Corel. Dia hanya mengangguk senang. Kami berdua berjalan menuju balkon tanpa bersuara. Setiba di balkon...

Corel duluan yang membuka mulut.

"Mmm, aku mau tanya. Kenapa kamu sering menangis dan menyendiri?" Corel memainkan jarinya.

"Itulah yang ingin aku jelaskan padamu." Corel hanya diam. Aku mengambil nafas panjang dan mulai bercerita..

"Dulu, aku punya Mom and Dad . Hari-hariku sangat indah karena mereka selalu memberikan kasih sayang. Tapi, keceriaan itu tidak berlangsung lama. Saat umurku menginjak usia 11 tahun, Mom and Dad ... kecelakaan. Hiks..hiks.. Lalu, aku hanya tinggal bersama Mbak dan supirku. Dan, semenjak saat itu juga, aku selalu menyendiri dan bermain piano dengan judul lagu.."

"No Woman No Cry ." Aku tersentak kaget. Karena aku dan Corel dapat menyebutkan judul lagu itu secara bersamaan.

"Jangan kaget. Sebenarnya, aku juga sudah kehilangan Papa dan Mama. Aku hanya tinggal bersama tanteku. Setiap malam aku selalu menangis seorang diri karena merindukan pelukan hangat dan kasih sayang dari Papa dan Mama. Hhh.. Sepertimu, hari-hariku berlalu begitu berat. Tapi, aku tidak ingin melihat orang tuaku bersedih di atas sana. Jadi, aku selalu berusaha untuk tegar dan mengunjungi makam orang tuaku. Aku selalu merindukan mereka, walaupun berada di alam yang berbeda. Antara bumi dan langit..."

Corel memejamkan matanya. Aku hanya menatap kosong ke luar balkon.

"Hhh..." Kami mendesah pelan bersama. Saat itu juga, aku dan Corel bersahabat.

Yang kumaksud dengan 'Someone' itu... My Mom . Karena Mom yang melahirkanku, Mom yang merawatku, Mom juga yang membesarkanku. Mom yang selalu memberiku pelukan hangat, Mom yang selalu men-support -ku. Mom -lah segalanya dalam hidupku. He was the 'someone'. He was My Mom. My Mom is my angel for my life, now and forever ...

Nabila Handayani
Nabila Handayani

29 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG