Home - Klinik Cerita - Cerita Pilihan Nenek
Cerita Pilihan Nenek
Senin, 08 April 2013
Adikku, Mentariku

Adikku, Mentariku

"Rena!" panggil Bunda. Rena tak menyahut.

"Rena Nakagawa Hamasaki!" Bunda memperjelas seruannya. Rena tetap teguh pada pendiriannya, dia tak mau menatap Bunda. Rena asyik merengut di kamar. Bunda menghampiri Rena.

"Rena kenapa?" tanya Bunda.

"Huh, Rena nggak suka ada Laras di sini!" teriak Rena. Laras yang mendengar itu hanya bisa meratapinya dengan pilu.

"Memang kenapa Laras? Dia baik, kok! Bunda dan Ayah mengadopsi dia agar kamu tidak kesepian!" kata Bunda.

"Pokoknya aku benci Laras! Aku benci LARAS!" teriak Rena emosi.

"Ya sudah!" Bunda keluar kamar. Gadis keturunan Jepang ini membanting pintu kamarnya.

Dua hari setelah kedatangan Laras, adik angkatnya, hidup Rena terasa hancur. Laras, gadis yang pintar dan beruntung. Dia diadopsi orangtua Rena dua hari lalu. Tapi, bukannya senang, Rena malah membencinya. Dan itu merupakan penderitaan bagi Laras. Namun Laras sadar, dia masih beruntung. Masih sangat beruntung!

"Bun, tolong ambilkan susu, dong! Bus jemputan sebentar lagi datang," pinta Rena.

"Rena kan udah besar, ambil sendiri, ya, di dapur!" nasehat Bunda.

"Huh, ya udah!" Rena mengambil susunya dengan bersungut-sungut.

"Laras sayang, kamu mau apa? Bunda ambilin!" tanya Bunda mengalihkan perhatian.

"Ng ... enggak ah, Bunda! Makasih," sahut Laras sambil melirik Rena yang sedang memasang wajah kesalnya.

Satu bulan setelah Laras menjadi keluarga di sini, beban Rena terasa semakin besar. Dia belum sudi memanggil Laras sebagai adiknya. Berbicara pun ... ehm, tak pernah. Rena malas mengobrol bersama Laras.

Hari ini, kekesalan Rena memuncak. Bunda dan Ayah tidak bisa menjemputnya dengan satu alasan, LARAS! Laras, Laras, Laraaaas terus! Rena bosan dengan nama itu. Dia benci dengan Laras. Bukan benci lagi! Sangat benci!! Rena pulang ke rumah dengan wajah merah padam.

"Brakk!"

"Bunda!" teriak Rena. Tak ada jawaban.

"BUNDA!!" Masih tidak ada jawaban. Tiba-tiba, Bi Rere, pembantu Rena, datang.

"Mbak Rena!"

"Bibi! Bunda mana?" tanya Rena.

"Bibi susah menjawabnya! Yuk ikut Bibi!" ajak Bi Rere sambil menarik Rena masuk ke dalam taksi di belakangnya. Taksi itu mengantarkan Rena dan Bi Rere ke rumah sakit.

"Ap ... Rena nggak sakit, Bi!" Namun, Bi Rere tetap menggeret Rena masuk, menuju kamar 196 di tingkat dua.

"Kreek!"

"Bun ... hah?!" Rena terkesima saat melihat Laras terbaring lemah di ranjang. Matanya tampak terpejam. Bunda menitikkan air matanya.

"Laras kenapa?" tanya Rena. Lagi-lagi, tak ada yang menjawab pertanyaan Rena. Tiba-tiba, Dokter Alya masuk.

"Maaf, saya akan memeriksa pasien! Apa ini gadis yang positif leukemia?" Deg! Apa? Leukemia? Laras ... Laras ... Bunda mengangguk pelan.

"HUAAA!" tangis Rena meledak, dia berlari ke balkon rumah sakit. Di sana, dia menangis tersedu-sedu. Dia memikirkan Laras. Adik angkatnya yang dia campakkan. Laras Leukemia?

"Jangan sedih, Mbak Rena! Mbak Rena bisa meminta maaf kepada Laras, kan?" hibur Bi Rere.

"Rena jahat! Rena jahat karena udah benci sama Laras, Bi! Huaaa," tangisnya.

"Mbak Rena nggak jahat. Kita doakan saya biar Laras sembuh. Oke?" Rena mengangguk, lalu menyeka air matanya.

Sebulan setelah Laras pulang ke rumah... Walau dia belum total, Laras pergi ke teras rumahnya, menatap mentari di langit.

"Mataharinya bagus, ya?" sapa Rena. Laras terkejut, lalu menoleh.

"Iya, Kak! Aku pengin, deh, menggapai mentari!" kata Laras.

"Hahaha! Dasar tukang mengkhayal!" ledek Rena.

"Biarin, dong, Kak Rena! Weeek!"

"Laras! Awas, ya!" Sebelum mengejar Laras, Rena menatap langit sekali lagi. Mentari itu, seperti Laras yang selalu menyinari hari-hariku ...

Meiza Maulida Munawaroh
Meiza Maulida Munawaroh

43 Artikel

Score : 5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG