Home - Klinik Cerita - Cerita Pilihan Nenek
Cerita Pilihan Nenek
Jumat, 27 Juli 2012
Siluet Sang Penari

Siluet Sang Penari

21.30...

Sesekali, mata Haleine mengamati rumah kosong di seberang sana. Rumah berjendela kaca, tanpa sisi kayu yang seukuran pintu.Jendelanya membentang dari kiri ke kanan dan kanan ke kiri bak akuarium. Semua yang ada di dalamnya terlihat menjadi siluet, karena di dalamnya ditutupi kain putih.

Sesuatu yang kehadirannya ditunggu-tunggu Haleine tak kunjung datang. Tiba-tiba mata cokelat keemasan Haleine terbeliak melihat siluet sang penari balet sedang melakukan pirouette , salah satu gerakan dalam tarian balet. Ya, itulah yang ditunggu Haleine.Siluet penari yang menari di rumah kosong itu.

Haleine menatap dingin siluet itu. Tak seperti perempuan 22 tahunan lain yang ketakutan, menjarit atau bahkan lari terbirit-birit ketika melihat sesuatu yang tiba-tiba, apalagi misterius. Karena Haleine sudah terbiasa, atau bahkan bisa dibilang tak punya rasa kaget dan takut.

Tahun yang lalu, saat usia Haleine menginjak 15 tahun, yang menempati rumah kosong itu adalah Arvenna dan Liarrane, kakak Arvenna. Arvenna adalah penari balet handal. Kalu Liarrane, asistennya.

Tapi sekarang Liarrane menjadi penyanyi. Mereka menyewa rumah itu karena letaknya ada di tengah-tengah keramaian kota dan jendelanya itu, cocok untuk tempat pentas balet.

Dua tahun kemudian, Arvenna dan Liarrane merasa terganggu dengan sesuatu yang mengganggu mereka malam-malam. Lampu ruang tengah mereka, bisa menyala maupun mati sendiri. Karena keparanoidan Liarrane, bahwa yang mengganggu mereka hantu, maka mereka pindah ke tempat lain.Tetangga pun sedih, karena tak ada pentas balet lagi di sana.

Siluet itu kemudian berputar, lalu melompat-lompat. Walaupun gerakannya cepat, tapi dia terlihat anggun.
“Kak, belum tidur?” adik sepupu Haleine, Fyannei (18 tahun) membuyarkan lamunan Haleine.
“Belum. Tidur saja duluan. Kau butuh tidur banyak.” Fyannei pun berjalan menuju kamarnya,
“Baiklah.”

 07.30…

Kegitan sehari-hari pun dimulai. Sesudah sarapan, Haleine pergi ke penerbit untuk menyerahkan naskah cerita. Fyannei akan ke acara jumpa fans. Ya, Fyannei adalah penyanyi dan Haleine adalah penulis buku. Kedua-duanya sama-sama terkenal. Sepulangnya, Haleine mendatangi Fyannei di kamar Fyannei sendiri.
“Fyannei, bisa aku minta tolong?”
“Bisa kak, apa pun itu.”
“Kalau begitu, aku minta tolong temani aku ke rumah kosong itu.”
“Apa?! Kakak ‘kan berani… Kok minta temani???” kini Fyannei mengelak.
“Aku ingin cari inspirasi untuk cerita jumpa fans nanti,”
“Baiklah…. Malam ini?” Haleine mengangguk.

 20.30…

Mereka telah siap. Fyannei membawa senter. Haleine membawa senter dan 2 botol air mineral. Sesampainya di sana, siluet itu kembali terlihat.
“Kak, siluetnya muncul…,lalu pintunya terkunci…” kata Fyannei.
BRAKK!!!
“Kakak!!! Terlalu keras! Bunyinya terlalu keras!” kata Fyannei.
“Kau terkecoh, Fyann. Pintunya hanya digembok yang gemboknya terbuka. Lalu terkesan terkunci karena di dalamnya ditahan oleh sebuah kursi.”

Haleine memang bertenaga besar. Kursi taman saja bisa terbalik karena ditendang kaki kiri Haleine. Mereka pun masuk mengendap-endap. Tampak oleh mereka, seorang wanita berpakaian balet sedang ber-pirouette ria. Wanita itu tak lain dan tak bukan…
“Arveinne?” betul. Wanita 30 tahunan itu adalah Arveinne, aktris terkenal.
“Ini tempat strategis untuk latihan, Haleine, Fyannei.” Fyannei menganga lebar-lebar. Halein meneguk minumannya. “Aku murid Arvenna. Diam-diam. Aku diam-diam latihan di sini lho. Ssssssst…” wanita itu menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya, menyuruh mereka merahasiakan hal ini.
“Jadi Arveinne, kamu berguru pada Arvenna diam-diam juga?” tanya Haleine.
“Iya, Haleine.”
“Jadi kakak yang mengganggu Kak Arvenna dan Liarrane?” selidik Fyannei.
“Aku baru berguru 3 tahun, lalu 2 tahun latihan di sini. Aku mendapat kunci duplikat dari Liarrane. Dia merahasiakannya dengan baik dari Arvenna yang pemarah. Hihihi…” jawab Arveinne cengengesan. “3 tahunnya adalah…”
“Hiiiiiiiiiiiiieeeeeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!” Fyannei lari terbirit-birit ke rumahnya. Haleine malah meneruskan pembincangan mereka. Haleine akan menceritakan pekerjaannya tadi. Tugas Haleine ternyata begini: menceritakan cerita horror dan menceritakan tentang pertemuannya dengan hantu kepada penggemarnya.
 Jadi, saat 21.20 Haleine pun pulang lalu tidur. Fyannei menumpang di kamar Haleine karena takut dengan cerita Arveinne. Siluet yang 2 tahun lalu adalah keisengan Arveinne, sedangkan 3 tahun lalu adalah…, jangan disinggung, karena pasti kalian tahu.

Farras Nur Azizah
Farras Nur Azizah

2 Artikel

Score : 5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG