Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Minggu, 28 Juli 2013
Diary Misterius Franda - Bagian 9

Diary Misterius Franda - Bagian 9

Franda membuka matanya. Kini ia berada di sebuah ruangan serba putih dan berbau obat. Tanpa bertanya pada siapa pun, Franda tahu ia ada di mana. Pasti rumah sakit. Franda yakin itu. Pasalnya, belakangan ini ia sudah kelewat sering masuk rumah sakit.

“Ah, Frand,” kata Faisal, yang pertama kali merespons sadarnya Franda. “Kau pingsan tadi.”
“Mmm, hmmm. Tanpa kau beri tahu aku juga sudah tahu,” sahut Franda, dengan santainya menanggapi.

“Tapi yang jadi masalah bukanlah aku. Dua orang itu. Mereka tak apa-apa, kan?”

Faisal mendesah. Yah, melihat dari ekspresi Faisal, Franda sudah bisa tahu jawabannya.
“Yah, oke, deh. Kau tampak stress kalau berusaha menjawab pertanyaanku. Aku sudah tahu jawabannya,” sela Franda bahkan sebelum Faisal hendak menjawab. Faisal terkekeh sebentar.

“Kau memang selalu pintar membaca raut muka,” kata Faisal dengan sedikit nada menghibur. Franda tersenyum tipis, sebelum perhatiannya teralih pada Aldo yang tengah duduk sambil memperhatikan diary -nya dengan seksama.

“Do, ngapain, sih?” tanya Franda pada sobatnya itu. Aldo menoleh dengan senyumnya lalu ia mendekat ke arah Franda dan Faisal.
“Enggak kok, cuma, mengamat-amati diary ini saja,” jawab Aldo, sambil menyodorkan diary itu pada Franda.
“Apa lagi yang mau kau amati, Do? Kau kan sudah sering melihatnya,” kata Franda, dengan alis berkerut.
“Iya, aku juga tahu. Tapi, aku kayak ngerasain firasat buruk,” ujar Aldo. Mendengar perkataannya, Franda nyaris tertawa, tapi tak bisa karena nada suara Aldo yang sebegitu seriusnya.

“Firasat buruk? Ada-ada saja. Sejak kapan kamu percaya sama firasat?” Franda menekankan pada kata ‘firasat’. Aldo mencicit.
 “Siapa yang bilang aku percaya?” protesnya.
 “Kalau gitu, enggak usah pakai firasat-firasat segala,” balas Franda. “Malah sial beneran, lho.”
Aldo menepuk kepala Franda menggunakan pamflet rumah sakit.

“Mendoakan orang, kok, begitu,” sungut Aldo. Franda tertawa melihat ekspresinya.
 “Hahahaha, bercanda, Do. Mukamu lucu saat marah,” gurau Franda, mencoba mencairkan suasana agar tak canggung.
 “Sudah, ih! Malah berantem,” kata Faisal sok bijak (Hei! Bijak sekali-sekali juga boleh, kan?).
 “Franda yang mulai duluan,” tuding Aldo, tampaknya masih kesal dengan perkataan Franda.
 “Hei! Aku kan sudah minta maaf,” protes Franda.
 “Kau bahkan belum berkata maaf,” lanjut Aldo, namun langsung diinterupsi oleh Faisal.

 “Sudah-sudah! Jangan bertengkar!!” seru Faisal kesal, karena tak biasa-biasanya mereka bertengkar seperti ini.
 “Ya,” sahut mereka berdua singkat.
 “Berbaikan! Salaman!” suruh Faisal. Franda dan Aldo mendesah jengkel. Faisal kok sok menggurui banget, ya ….
 “Ayo, tunggu apa lagi? Salaman!” Faisal menarik paksa kedua lengan temannya, kemudian menautkannya.
 “Maaf,” kata Franda, tampak berusaha lebih ramah.
 

“Aku juga,” kata Aldo, senyumnya menghangat lagi. Faisal tersenyum gembira karena sikap “sok bijak”-nya berhasil membuat mereka berbaikan lagi.

***

“Ke pabrik tantemu?” Aldo mengernyit ketika Franda melontarkan tawaran untuk kedua kawannya.
“Iya, aku diajak tanteku. Lagipula, itu bisa jadi sumber untuk tugas karangan dari Pak Karim kan?” jawab Franda, yang tempo hari sudah pulih total dari cedera.

“Tugas karangan tentang kawasan industri atau pabrik sebanyak dua lembar yang berentet-rentet itu? Kalau iya, malas ah. Peduli amat sama Pak Karim,” sahut Faisal sarkastis.

Franda dan Aldo lantas memelototi Faisal. Mereka berdua tahu benar, kalau Pak Karim itu terkenal pelit memberi nilai dan akan lebih pelit lagi jika orang itu tak menyukai pelajarannya, seperti Faisal. Dia sudah langganan mendapat nilai merah pada pelajaran IPS yang diajar oleh Pak Karim. Bahkan Franda yakin kalau Faisal berada dalam daftar teratas black list Pak Karim (Isinya daftar murid-murid yang tak disukai beliau) setelah Bono, Mario, Danang, dan Usman (teman Franda, Aldo, dan Faisal yang sering mendapat nilai kursi terbalik atau bahkan telur rebus di pelajaran IPS).

“Ssst! Enggak ada tapi-tapian! Nilai IPS-mu sudah persis bebek kemarin!” tegur Franda, mengingat nilai tugas wawancara Faisal kemarin. Franda dan Aldo mendapat nilai 90 (yang sudah sangat bagus) karena mereka menyusun laporan wawancara secara rinci dan terlalu berentet-rentet, yang sangat disukai Pak Karim. Sedangkan Faisal hanya mencapai angka 20 karena ia menyusun laporan wawancara sesingkat-singkatnya, dengan pola bahasa yang kacau dan EYD yang ngaco.

“Aku setuju sama Franda. Memangnya kamu enggak bosan apa, di remidi terus di pelajaran IPS?” Aldo mendesah kesal.
“Enggak. Toh aku enggak suka pelajaran itu, kan? Jadi wajar dong kalau remedial terus,” sahut Faisal santai. Ingin sekali rasanya Franda menjitak kepala anak itu.

“Oh ayolah, Sal. Nanti kami bantu deh dengan tugasnya,” rayu Franda tak henti-henti. Ia tak mau pergi berdua saja dengan Aldo, soalnya Tante Tam (tante Franda yang punya pabrik) gemar sekali menggoda Franda soal cowok. Pasti beliau langsung menjerit-jerit kalau melihat Franda hanya datang berdua dengan Aldo dan gosipnya pasti akan sampai ke nenek dan sepupu-sepupu Franda.

“Serius?” tanya Faisal, sepertinya ia mulai luluh.
“Iya! Nanti aku dan Aldo pasti membantumu dengan karangan itu!” kata Franda meyakinkan.
“Yah …. Okedeh, aku ikut …. Tapi janji lho,” ancam Faisal.
“Iya janji! Ya kan, Do?” Franda menyikut Aldo.
“Iya! Tenang! Kita kan sobat!” kata Aldo senang hati. Senyum jahil khas Faisal terkembang.
“Terima kasih! Kalian berdua memang sobat yang paling baik! Tapi ngomong-ngomong, kita kesananya kapan?” tanya Faisal, tangannya merangkul bahu Franda dan Aldo.
 “Minggu ini, kalian bisa, kan?”

***

Franda menyumpah-nyumpah kesal. Sudah 3,5 jam mobilnya berjalan sesuai arah yang diberi tahu oleh Tante Tam, namun mereka tak kunjung sampai. Padahal menurut tantenya, hanya memerlukan waktu 2 jam jika diukur dari rumah Franda.

“Frand, jalannya benar enggak, sih? Kok enggak sampai-sampai?” sungut Faisal. Ia memang uring-uringan semenjak tadi.
“Menurut petanya sih sedikit lagi. Tapi …,” Franda agak ragu, membuat Faisal bersungut-sungut lagi. Ia kembali membenamkan wajahnya ke bantal, sementara Franda mengamat-amati peta dan Aldo menelaah ke sekelilingnya.
“Hei Frand,” panggil Aldo. “Apakah pabrik tantemu punya gerbang hitam besar?”
“Eh? Tahu darimana?” tanya Franda heran, karena seingatnya ia belum memberitahu hal itu pada Aldo atupun Faisal.
“Kita sudah sampai kalau begitu,” kata Aldo, sambil menunjuk gerbang hitam besar di depan mobil, membuat Faisal nyaris melompat karenanya.

***

“Selamat datang, Franda dan, eh? Teman-temannya ya?” sambut Tante Tam begitu melihat keponakannya.
“Iya, Tante. Yang ini Aldo, yang ini Faisal,” Franda memperkenalkan keduanya pada Tante Tam.
“Wah, bajunya sama-sama putih. Jangan-jangan diantara mereka ada pacarmu ya?” goda Tante Tam.
“Enggaklah! Mereka berdua teman dekatku!” protes Franda, namun mukanya memerah sampai ubun-ubun.
“Bercanda! Tante tahu kok sifatmu, Frand. Enggak bakalan pacaran dini,” cerocos Tante Tam.
“Iya aja deh,” sahut Franda malas, karena tahu adik bungsu mamanya itu jago sekali ngeles.
“Ngomong-ngomong, kenapa kamu ajak kedua temanmu ke sini?” tanya Tante Tam. Faisal dan Aldo berpandangan, seolah merasa mereka tak diinginkan.

“Enggak sopan nanya begitu, Tante! Kesannya ngusir,” tegur Franda pada wanita yang lebih tua 11 tahun darinya itu.
“Tante nanyanya alasan, bukan tausiyah,” protes Tante Tam tanpa dosa. Tante Tam ini benar-benar tak mau dirinya bersalah.
 “Ya memangnya kenapa, Tante? Boleh dong aku ajak teman. Kami mau mengerjakan tugas, Tante. Atau jangan-jangan, Tante mau ya nilai Franda jeblok?” Franda mulai naik pitam.

“Lho? Siapa yang bilang Tante mau nilai kamu jeblok? Hati-hati Frand, ucapan itu sebagian dari doa lho,” kata Tante Tam. Franda menyumpah lagi. Tantenya yang satu ini benar-benar menyebalkan.

“Ya sudah deh, langsung saja Tan. Kita mau keliling-keliling pabrik, plus penjelasan sepanjang-panjangnya tentang pabrik. Tante bisa kan?” tanya Franda sarkastis.

“Apa, sih, yang Tante enggak bisa?” Tante Tam menyombongkan diri. Franda mendesis kesal, sementara Aldo dan Faisal berusaha menahan tawa melihat pertengkaran ‘kecil-kecilan’ Franda dan tantenya.

***

Setelah puas berkeliling selama dua jam di pabrik sampah daur ulang Tante Tam, Franda, Aldo, serta Faisal memutuskan untuk berkeliling sekitar pabrik dengan dibekali peta dan wanti-wanti Tante Tam.

“Jangan ke sungai, oke? Sungai itu arusnya deras sekali. Sudah memakan dua korban,” pesan Tante Tam sebelum mereka berkeliling pabrik.

“Iya Tante. Sudah 5 kali Tante bilang itu,” sungut Franda, ia sudah beranjak dari pabrik.
“Jangan jauh-jauh! Dan ingat, jangan dekati sungai!” seru Tante Tam begitu mereka menjauh. Tapi saat Tante Tam hilang dari pandangan, Franda mendekat kearah sungai. Ia memang senang sekali kesana. Udaranya sejuk.

“Frand, tapi tantemu kan sudah bilang jangan ke sungai,” kata Aldo.
“Peduli amat. Aku sering main ke sini, kok,” Franda tak menggubrisnya. Ia tengah asyik menikmati angin sepoi-sepoi. Dan sesaat kemudian, Aldo dan Faisal sudah mengikuti kegiatan Franda.

“Segar sekali di sini,” komentar Faisal.
“Ya kan? Tante Tam itu memang terlalu overprotective !” protes Franda.
“Tapi tantemu lucu sekali,” tambah Aldo.
“Dan menyebalkan!” sambung Franda. Ia kembali bersungut-sungut.

“Tapi semenyebalkan apapun Tantemu, pasti dia sangat berharga buat keluargamu kan? Lihat saja pabriknya yang besar sekali. Belum lagi banyaknya cabang di negara-negara lain. Pasti kekayaan Tante Tam melebihi Om Frederick (Ayah Kak Anasya, untuk lebih jelasnya lihat bagian 6),” kata Aldo.

“Memang. Tanteku itu aset besar keluarga. Dia yang paling tinggi jabatannya diantara kakak-kakaknya. Dia yang pengeluarannya paling besar. Entah, deh, kalau tanteku enggak ada. Soalnya Tante Tam berperan besar dalam keluargaku. Selain menjadi donatur tetap perusahaan Om Frederick, Tante Tam juga membawahi perusahaan tekstil sukses Tante Namira dan restoran Om Andi,” jelas Franda panjang-lebar dalam satu tarikan napas.

“Hebat banget. Padahal umurnya baru 23 tahun, kan?” decak Aldo kagum.
“Yah, begitu deh,” sahut Franda pendek. Ia tak ada waktu untuk memuji Tante Tam yang gemar menggodanya.
“Tapi …,” sebuah suara mengagetkan mereka bertiga. Franda nyaris menjerit, dan segera mengecek tasnya.
“Ngapain kau di sini?!” jerit Franda ketika melihat diary -nya di dalam tas.
“Jangan salahkan aku. Kau, kan, belum mengeluarkan aku dari tasmu semenjak kamu terbaring di rumah sakit,” kata sang diary .
“Ugh! Terserahlah! Maumu apa, sih?” teriak Franda kesal.

“Dorong tantemu ke sungai,” katanya, suaranya serak sekali, seperti suara ular kejepit.
“Apa-apaan kamu mau main dorong-dorong?” tegur Franda kesal, sementara raut Aldo dan Faisal berubah.
 “Frand … jangan-jangan tantemu …,” ucapan Faisal putus-putus. Aldo mengiyakan dengan gayanya,  mengangguk-angguk cepat. Franda keheranan melihat tingkah keduanya, namun dengan cepat ia mencerna semua.

“Enggak. Jangan bilang begitu. Enggak mungkin, kan?” tanya Franda, diary -nya nyaris terlepas.
 “Memangnya untuk apa aku menyuruhmu kalau ia bukan korbanku, hah? Lagipula di sini kuat sekali, sihirku tak bisa terpakai,” diary itu setengah bersungut.
 “Hei! Sampai kapan pun, aku enggak akan membiarkan tanteku mati! Enggak akan! Keluargaku bakal hancur tahu karena itu!” protes Franda setengah menjerit.

“Terserah saja, kalau kau mau dihantui olehku terus. Atau …,” ucapan diary itu agak terputus.
“Atau apa?” sambar Franda cepat.
“Ada yang menggantikan tantemu sebagai korban. Itu penawaranku, bagaimana?” katanya, membuat mereka bertiga mematung. “Salah satu diantara kalian harus menceburkan diri ke sungai kalau tak mau tante Franda terbunuh,”

Tak ada respon. Mereka bertiga terlalu sibuk mencerna perkataan diary Franda. Setelah 3 menit berdiam, akhirnya Franda angkat bicara.

“Kalau gitu, aku saja deh. Biarkan saja aku mati, asal keluargaku baik-baik saja,” Franda menyerah. Wajahnya berubah menjadi sekelam badai.

“Tidak, aku saja! Aku yang paling ceroboh di antara kalian, aku yang membuat semuanya kacau, oke?” protes Faisal sebelum Franda melaksanakan niatnya.

“Tapi, dia tanteku, Sal! Kau enggak ada campur tangannya!” balas Franda.
“Yah, tapi aku sudah membuat kalian berdua terluka! Mungkin aku harus balas budi,” kata Faisal, emosinya memuncak.
“Hei,” potong Aldo, namun tak digubris.
“Tidak! Aku saja!” kata Franda.
“Aku, Frand!” balas Faisal.
“Aku!”
“Jangan! AKU!”
“AKU!”

“Kamu keras kepala banget, sih, Frand! AKU!” teriak Faisal. Suaranya sudah naik satu oktaf lebih tinggi. Franda memanas. Ia balas memprotes, namun segra diinterupsi oleh Aldo.

“Heiii!” seru Aldo, menengahi pertengkaran kedua kawannya. “Diam!”
 Franda dan Faisal bungkam. Aldo menarik nafas berat, kemudian melanjutkan omongannya.

“Kalau soal ini, lebih baik aku saja! Memang, aku enggak ada sangkut pautnya dengan tantemu, Frand. Tapi aku yang memberi kamu diary itu. Seandainya waktu itu aku tak memberikan diary ini padamu, pasti ini enggak bakal terjadi, kan? Jadi semua ini salahku,” kata Aldo dengan nada bersalah.
Franda mengeras.

“Tidak! Jangan kamu!” protes Franda, ia mulai terisak.
“Lebih baik kita tanya pada diary ,” Aldo santai. Matanya menatap ke arah diary yang berpendar hijau itu.
“Aldo. Kurasa dia persembahan yang bagus,” sahutnya langsung. Franda berapi-api.
“TIDAK! AKU MENOLAK!” serunya, air matanya meleleh.

“Aku enggak mau kehilangan orang-orang yang kusayangi lagi, apalagi sahabatku!!” jeritnya pilu.

Hati Aldo mencelos. Setiap tetes air mata Franda jatuh ke pipinya, Aldo merasa darahnya berhenti mengalir. Setiap jeritan-jeritan Franda, Aldo merasa nadinya berhenti berdenyut. Ia ingin sekali berkata pada Franda dan Faisal kalau semuanya akan baik-baik saja, cuma hal itu sama saja seperti memutarbalikkan fakta. Jelas-jelas mereka tidak baik-baik saja.

“Frand … Aku tahu ini berat …. Tapi, mungkin ini satu-satunya cara,” Aldo mendesah.
 “Kamu enggak boleh, Do! Jangan!” seru Franda, tangannya memegang lengan Aldo kuat-kuat.
 “Maaf, Frand …,” kata Aldo berat hati.
 “Jangan! Aldo! Dengar aku!” kata Franda lagi.
 “Frand …. Ini cuma aku, oke? Setelah ini, kalian akan damai lagi, tanpa gangguan diary itu. Jadi relakan aku, ya?” Aldo berusaha meyakinkan Franda, meskipun ia sendiri juga berberat hati.

“Tidak! Kamu enggak boleh!” jerit Franda, tangisannya semakin kencang. Aldo menunduk sendu.
“Frand,” kata Aldo lagi, suaranya makin berat. “Aku minta maaf. Dan aku janji, enggak bakalan ninggalin kamu. Aku janji untuk selalu hidup di hati kamu. Aku enggak akan pernah biarin kamu sendirian dan kesepian. Aku akan selalu menghibur kamu kalau kamu sedih, meskipun aku enggak ada di sisimu. Aku janji, Frand,”
Franda masih menangis. Ia tahu ucapan Aldo sungguh-sungguh, namun ia masih berat hati melepas Aldo.

“Do …. Lebih baik kau ikuti saran Franda,” akhirnya Faisal angkat bicara. Aldo menggeleng mantap.
“Enggak. Maafin aku ya, Sal …. Jaga Franda. Kita akan selalu bersahabat, sampai kapanpun,” kata Aldo. Ia melepaskan genggaman Franda dengan lembut dan memantapkan hatinya.
“Aldoo!” jerit Franda. Aldo tersneyum sekilas pada mereka berdua, kemudian mulai melangkah mendekat kearah sungai.
“Do, jangan!” teriak Franda, ia berusaha mencegah Aldo.

Namun terlambat. Pada langkah kedua Aldo, ia terpeleset batu dan tercebur ke sungai. Tubuhnya terantuk batu dengan kencangnya. Aldo sempat mengerang, namun tubuhnya sudah terbawa oleh arus sungai.
“Aldoooo!!!!!”
-Bersambung-

Catatan penulis: Maaf buat para pembaca yang udah nunggu lama …. Soalnya jadwalku padat bangeet …. Setiap hari berangkat sekolah jam 05. 30 trs sampe rumah jam 17. 00. Maklum, anak SMP niiih :D. Oh iya, semoga kamu senang dengan ceritanya, yaa!

Zahra Diva Fatchurrachman
Zahra Diva Fatchurrachman

43 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG