Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Rabu, 20 Februari 2013
Gunung Tidar
Gunung Tidar

Gunung Tidar

Gunung Tidar merupakan gunung yang berada di Kota Magelang. Masyarakat sekitar banyak yang mempercayai bahwa gunung ini menjadi pusar tanah Jawa, jadi merupakan sesuatu yang dianggap vital untuk kehidupan. Karena merupakan sesuatu yang dianggap vital, maka banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan keberadaan Gunung Tidar.

Berikut ini saya sajikan sebuah cerita lisan yang saya angkat berdasarkan wawancara dengan sesepuh warga Magelang, yaitu Bp. A Harsono.

Pada zaman masuknya Islam ke Pulau Jawa, banyak ulama yang berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam. Selain Wali Sembilan, ada lagi beberapa wali lain yang turut menyebarkannya.

Adalah Syeh Subakir, ulama dari Persia, yang menyebarkan Islam di wilayah Magelang. Untuk menjaga keamanan dirinya, beliau memiliki senjata tombak yang diberi nama Kyai Sepanjang.

Ketika berdakwah di Magelang, Syeh Subakir tinggal beberapa lama di lereng Gunung Tidar sebelum melanjutkan perjalanan dakwahnya ke beberapa daerah lain di Jawa, dan akhirnya pulang kembali ke negeri asalnya, Persia.

Masyarakat Magelang waktu itu mengira bahwa Syeh Subakir menetap di lereng Gunung Tidar sampai tua dan meninggal di tempat itu. Terbukti ada dua makam di tempat tersebut tetapi tanpa nama. Masyarakat mempercayai dan meyakini bahwa kedua makam tersebut satu di antaranya adalah makam Syeh Subakir dan yang satu lagi adalah makam tombak Kyai Sepanjang.

Batu nisan makam Kyai Sepanjang memang secara fisik panjangnya 2,5 m karena yang ditanam adalah tombak, senjata Syeh Subakir.

Sampai saat ini banyak orang berziarah ke dua makam tersebut. Orang berbondong-bondong pergi berziarah ke tempat tersebut karena dipercaya dapat memperlancar rizki, memudahkan jodoh, mendatangkan pelaris, dsb.

Pada setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, makam tersebut sangat ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di sekitar Magelang, misalnya dari Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen. Mereka tidak mengetahui bahwa sebenarnya Syeh Subakir sudah pergi dari Magelang ketika masih hidup. Mereka juga tidak mengetahui bahwa yang dinamakan Kyai Sepanjang sebenarnya adalah tombak. Yang mereka tahu bahwa tempat tersebut bisa mendatangkan berkah, segala doa bisa terkabulkan.

Perkembangan sampai sekarang, makam Syeh Subakir tetap ramai dikunjungi peziarah, sehingga dikhawatirkan akan merusak lingkungan di sekitar lereng Gunung Tidar yang sedang dihijaukan. Pemerintah Kota Magelang berinisiatif melepas beberapa ekor ular di tempat tersebut. Sampai saat ini meskipun ular-ular itu semakin besar dan berkembang biak, para peziarah tetap mendatangi makam tersebut tetapi dengan sangat hati-hati.

Mayang Fauny
Mayang Fauny

2 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG