Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Selasa, 06 November 2012
Hembusan Nafas Terakhir
Hembusan Nafas Terakhir

Hembusan Nafas Terakhir

Aku memikirkan Ibu dengan cemas. Kemarin, saat mengecek ke dokter ternyata Ibu mengidap penyakit tumor.

"Tak apa Syahla, tak apa," ujarnya ketika aku menangis di RS Kasih Bunda. Walau Ibu berkata begitu, aku tahu kalau sebenarnya 'tidak' tidak apa, aku hanya merenung saat pelajaran IPA hari ini.

"Ada apa Syahla? Biasanya kau semangat pada pelajaran satu ini?" tanya Kathrine. Aku hanya tersenyum mau tak mau. Bu Min sudah tahu masalahku, dia hanya membelai kepalaku dan berkata, "Yang sabar, ya, Syahla, Tuhan pasti melindungi ibumu," ujarnya. Aku hanya termenung sedih. Tak ada satu pun pelajaran yang masuk ke otakku, padahal sedikit lagi UAS.

***

"KRIINNGG!!!" bel berbunyi. Usai doa pulang, aku segera berlari cepat ke rumah, mengambil buku PR, dan naik ojek untuk pergi tempat Ibu. Sampai di rumah sakit, aku segera ke ruang 10976.

Menurut Ibu, itu ruang spesial, karena namanya sama seperti tanggal lahir Ibu, Oktober/9/1976.

”Adik Syahla Shafira Putri? Anaknya Bu Shafira?” tanya dokter Ibu yang tiba-tiba ada di belakangku saat aku hampir membuka pintu.

”I..Iya,” jawabku takut.

”Di mana ayahmu?” tanya dokter itu lagi.

”A...Ayah udah gak ada,” ujarku sambil menundukkan kepala, menyembunyikan wajahku yang merah menahan tangis, dan mataku yang berkaca-kaca.

”Eh, maaf dek, saya gak tau,” Pak Dokter tampak salah tingkah.

“Iya, gak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum walau dipaksakan.

”Adik bisa sini sebentar?” tanya dokter itu.

”I...Iyah,” jawabku.

***

“Ibumu akan segera dioperasi. Penyakitnya sangatlah parah.”

“B..Baik,” ujarku cemas.

“Penyakitnya sudah kritis,” ujar dokter itu lagi.

“Hhh,” dokter itu menghela nafas.

”Lalu?” tanyaku.

“Tidak. Tidak apa-apa,” ujar dokter itu. Dokter itu tak dapat mengatakan kalau hidup ibuku tinggal 7 bulan lagi karena aku masih kelas 5. Dan sedikit lagi akan UAS. Bisa-bisa aku tak konsentrasi dan tak naik kelas.

***
7 Bulan berlalu…

Libur panjang hampir selesai. Kulihat, Ibu baik-baik saja walau agak pucat. Hari ini, ibu menyapu dengan badan panas, wajah pucat, dan batuk. Aku cemas sekali, namun,l agi-lagi Ibu berkata, ”Aku tidak apa-apa, lebih baik kau bereskan buku untuk lusa,” ujar Ibu sambil tersenyum pucat. Aku tetap bersikeras, akhirnya Ibu pun menyerah. Dia duduk di sofa.

***
“Hhhhh,selesai juga,” ucapku puas. Aku lalu menghampiri Ibu.

”Ibu, Ibu, Syahla sudah selesai menyapu, lho, Bu. Bu, bangun, Bu!” Kugoyangkan badan Ibu. Badannya dingin!!

”DOKTER!!”

***
“Ibu! Bertahan, ya, Bu!” tangisku.

”Ibu tak apa-apa, uhuk uhuk.”

“Ibuuuu,” tangisku pilu.

“Hhhh…” dokter menghela nafas.

”Ke…Kenapa, Dok?” tanyaku cemas. Dokter itu tersenyum.

”Yang sabar, ya,” tanpa dijelaskan, aku pun mengerti.

”IBU!!!”

Aku buru-buru masuk.

”Ibu, terima kasih...” bisikku, tepat di saat Ibu menghembuskan nafas terakhirnya….

Johanna Zahra Jahja
Johanna Zahra Jahja

3 Artikel

Score : 5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG