Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Kamis, 25 Oktober 2012
Misteri Harta Karun Terpendam

Misteri Harta Karun Terpendam

"Fi! Kamu pernah dengar gak tentang cerita harta karun sekolah?" tanya Emil, Alfi mengangkat bahu.

"Belum tuh, emangnya ada apaan?" kata Alfi.

"Ada misteri baru, Fi! Biasanya kamu senang, kan?" kata Emil. Alfi hanya menggelengkan kepala, "Memangnya kamu gak ingat misteri terakhir kita? Kacau balau gitu, ternyata bukan misteri. Cuma orang iseng yang namanya Kak Erika. Kamu punya buktinya?" tanya Alfi,Emil mengangguk.

"Nih...aku temuin waktu kita sedang kerja bakti," kata Emil. Alfi hanya memandangi peta tersebut selama semenit, lalu ia memanggil Dea dan Fitri untuk mendekat.

"Kamu percaya gak kalau ini peta harta karun?" kata Alfi, mereka berdua hanya mengangkat bahu.

"Kami kan bukan ahli peta, jadi gak tau, deh!" kata Dea, Fitri juga mengangguk.

"Udah deh, Mil. Ini paling cuma gambar anak kelas satu," kata Alfi, lalu mereka meninggalkannya.

Mereka tidak membicarakan tentang peta lagi, tapi Emil tetap akan mencarinya walaupun tidak ada yang mendukungnya. Ia pun pulang dan menelaah peta tersebut. Semakin dilihat, semakin membingungkan peta tersebut. Ia hanya tahu tenang satu hal, yaitu huruf X yang berarti tempat harta karun tersebut berada.Tiba-tiba, ponsel Emil berbunyi. Ada pesan dari Alfi.

"Aku percaya kamu, Mil. Aku akan ikut kamu, maaf ya tentang tadi," kata Alfi dalam SMS tersebut.
"Ya gak papa, Fi," kata Emil,ia merasa lega. Kemudian, ia tertidur.

"Ayo dong! Masa gak ada yang tahu ini di mana?" tanya Fitri. Mereka semua mengangkat bahu. Tiba-tiba peta tersebut diambil oleh Dimas. Mereka semua ingat, yang membuat kacau adalah Dimas dan Nova.

"Ngapain kamu di sini? Mau ikut campur?" kata Dea, Dimas hanya mengangkat bahu.

"Kelihatannya peta ini menarik, deh! Aku ikut, ya, bareng Budi, Au sama Nov," kata Dimas, kemudian ia melihat ekspresi anak perempuan yang jengkel.

"Masa kalian marah kepadaku hanya karena aku membolehkan Nova ikut? Lagi pula, ia cukup berguna bukan? Ia yang mengetahui Kak Erika. Jadi, dia boleh ikut, ya?" kata Dimas.

Anak perempuan pun berdiskusi. "Baiklah.......Nova boleh ikut. Tapi, jangan sampai ia berulah atau membuat keributan. Panggil saja Au dan Budi, kita akan berdiskusi," kata Emil.

Dimas pun memanggil Budi dan Au, "Ini kan jalan yang di belakang rumahku. Pasti tempatnya di situ!" kata Au.

"Bukan! Ini pasti jalan yang berada di sebelah rumahnya Desi. Jadi, dekat dengan rumahku!" kata Dimas, semuanya berebutan bahwa jalan yang berada di peta adalah jalan di dekat rumah mereka masing-masing.

"Ini adalah jalan di belakang sekolah, di depan kelas 6A dan 6B, di taman," kata suara tersebut.

Semuanya mendongak, NOVA!!!! Semuanya melongo mendengar penjelasan Nova.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" kata Emil dingin. Nova berdeham, "Jelas saja ada di peta. Lihat kotak itu? Itu pasti taman yang ada di depan. Apakah kalian tidak memperhatikan dari tadi?" kata Nova, anak perempuan menggeram marah.

"Orang ini!" kata anak perempuan.
 "Apa benar ini tempatnya? Ini hanya sepetak tanah!" kata Emil, anak perempuan mengangguk setuju.

"Pasti harus digali, karena ada ruangan diatas huruf X ini!" kata Nova, Fitri mendengus.

"Benarkah itu?" kata Fitri mengejek Nova.

"Ayo cepat digali dong! Aku penasaran!" kata Dimas, akhirnya mereka pun menggali. Sampai akhirnya ada sebuah pintu.
Kalau dilihat, pintu itu kelihatan sangat rapuh. Bahkan, anak-anak menganggap bahwa dengan bersin maka pintu itu akan roboh.

Sayangnya, Budi merasa hidungnya gatal, ia pun bersin. Maka, robohlah pintu itu menjadi tumpukan debu.

"Budiiii!!!!" kata anak-anak marah, "Maaf ya, tadi aku merasa hidungku gatal banget, jadi aku bersin, deh!" kata Budi, mereka hanya memutar mata. Mereka pun masuk melalui pintu tersebut.

Di dalam ruangan itu, sangatlah gelap karena tidak ada cahaya. Maka, mereka pun mengeluarkan senter masing-masing.

"Tunggu!" kata Emil tiba-tiba.

"Ada apa, Mil?" kata Dea, Emil pun maju duluan.

"Ada kode di sini, aku minta petanya!" kata Emil, mereka pun memberi Emil peta. Ia pun membacanya, "Dalam istana terdapat kode yang menghubungkan dua tempat. Dengan menuju cahaya matahari, maka ia akan menemukan cahaya kebenaran. Menuju matahari.....saat terbit atau saat terbenam? Mungkin saat terdekat dengan jam yang menemukan," gumam Emil. Ia pun mengubah arah jarum jam menjadi ke arah barat. Tiba-tiba ada bunyi BHES dan pintu didepan mereka terbuka.

"Cerdas juga kau!" kata Budi, Emil hanya menjawab.

"Terima kasih," dan langsung menuju pintu tersebut. Mereka melaju terus dan melihat sesuatu yang terang. Mereka pun menuju ke sana, semuanya langsung melongo. Itu adalah emas yang sangat banyak. Bahkan melebihi kata banyak. Bukan hanya emas, tapi ada juga platina.

"Ini bakalan membuat kita jadi kaya!" kata Au. Tetapi semua hanya memandanginya.

"Masing-masing hanya boleh mengambil lima barang, sisanya untuk sekolah," kata Nova. Mereka pun mengambil lima barang yang paling membuat mereka terkesan. Lalu, pergi dari tempat itu dan melapor ke kepala sekolah. Kepala sekolah langsung menuju tempat tersebut. Mereka sangat senang. Ini baru namanya memecahkan misteri!

Lagi-lagi 4 Sekawan berhasil memecahkan misteri!

Aurellia Wenda Artemmy

6 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG