Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Kamis, 19 Juli 2012
Pelajaran Bahasa Sunda

Pelajaran Bahasa Sunda

Halo, namaku Zee. Aku anak kelas 6 SDI Syakira Bekasi. Aku baru saja pindah ke SDI Syakira Bekasi. Sebelumnya, aku bersekolah di SDI Maryam, Medan.
Kata teman-teman, aku cukup pintar. Terbukti, dari kelas 1 sampai 5 di SDI Maryam, aku berhasil meraih peringkat pertama. Nilai-nilaiku juga selalu di atas 80.

Namun, di kelas 6 SDI Syakira Bekasi ini, ada pelajaran yang membuatku sedikit panik. Pelajaran Bahasa Sunda. Aku memang tidak tahu bagaimana itu bahasa Sunda, sehingga aku khawatir saat ujian nanti nilaiku jatuh.

“Halimah, menurut kamu Bahasa Sunda itu sulit, tidak?” tanyaku kepada teman sebangkuku.
“Tidak. Bahasa Sunda itu mudah. Sejak kelas 1, nilaiku selalu di atas 90 dalam pelajaran Bahasa Sunda,” jelas Halimah. Aku tercengang. Di atas 90? Sejak kelas 1? Wow..

“Ada apa? Memangnya menurut kamu pelajaran Bahasa Sunda itu, susah?” Halimah balik bertanya.
“Iya. Mendengar dan membaca Bahasa Sunda saja aku belum pernah,” jawabku. Halimah hanya mengangguk-angguk.

Sepulang sekolah, aku segera mengganti baju dan bergegas makan siang.
“Umak, aha do guletta arian ? (Ibu, apa lauk kita siang ini?)” tanyaku kepada Umak dalam Bahasa Mandailing (Bahasa Batak)
Guletta arian manuk (lauk kita siang ini ayam),” jelas Umak. Aku mengangguk-angguk.

Seandainya saja Bahasa Sunda diganti Bahasa Mandailing, mungkin aku tidak akan khawatir. Aku juga pasti mendapat nilai sempurna, nilai 100, batinku. Aku mulai memakan makan siangku dengan tidak bersemangat.

Esoknya, aku berjalan lemas ke sekolah. Hari ini ada pelajaran Bahasa Sunda. Oh, kalau ada latihan, aku tidak bisa membayangkan berapa nilaiku.
Saat pelajaran Bahasa Sunda, Bu Ina menjelaskan dengan Bahasa Sunda. Tak lama kemudian, Bu Ina menyuruhku dan Halimah membaca percakapan berjudul ‘Paringetan 17 Agustus’. Halimah menjadi guru dan aku menjadi murid.

“Eh.. Dina bulan Agustus barit, eh, baris diayakon, eh diayakeun kagiatan naon di sakola urang , Pa?” aku membacanya dengan terbata-bata. Jujur, aku gugup! Aku juga tidak tau apa artinya.

Pangpangna mah upacara paringeta n 17 Agustus. Salian ti upacara di sakola urang oge bakal diayakeun kagiatan keur ngareuah-reuah poe kemerdekaan,” kata Halimah dengan fasih.

Naon bae dina, eh, acara dina ngerauh-rauh , eh,” teman-teman tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian, percakapan itu selesai. Aku membacanya dengan sangat tidak fasih.

Malamnya, aku bercerita pada kakakku tentang Bahasa Sunda. Kakakku yang sangat penyayang itu memberiku saran.

“Kalau kamu mau bisa Bahasa Sunda, pelajarilah seperti mempelajari Bahasa Inggris atau Arab, atau malah bisa dipelajari seperti Bahasa Mandailing,” jelas Kak Yuna.
“Hmmm..” Aku sejenak berpikir. Tapi akhirnya aku setuju. Aku lalu belajar Bahasa Sunda dengan cara belajar Bahasa Inggris atau Arab.

UTS atau Ujian Tengah Semester telah tiba. Aku sudah siap. Saat hari ketiga UTS, ada pelajaran Bahasa Sunda. Aku sudah siap untuk ujian Bahasa Sunda.
 Tiga minggu kemudian pembagian raport. Alhamdulillah, peringkatku tidak turun. Aku masih aman tentram di peringkat satu. Nilai Bahasa Sundaku memang tidak 100, tetapi 96. Tapi, aku bangga bisa berbahasa Sunda. Bahasa Sunda memang tidak sulit kalau dipelajari dengan hati ikhlas!

Zahra Annisa Fitri
Zahra Annisa Fitri

8 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG