Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Kamis, 18 April 2013
Sahabat Terbaikku Kini Hanya Tinggal Kenangan

Sahabat Terbaikku Kini Hanya Tinggal Kenangan

Rasanya tangisku mau pecah membayangkan cerita dulu. Ouh, rasanya haru mulai menyergapku. Tak mungkin aku tak menangis! Rasa ini terus membara di hatiku. Tak mungkin dihapuskan begitu saja. Tidak, tidak mungkin!

Oh, sampai merenungkan semua ini, aku lupa mengenalkan siapa atau apa aku. Namaku Larissa. Oh, aku sepertinya mengulang memori beberapa tahun lalu.

"Kak?" tanya Manda, adikku.

"Kakak merenungkan itu lagi? Siapa sih, Gladys itu?" tanya Manda. Oh, tak bisa kubendung lagi air ini! Tangisku mulai pecah. "Kak?" tanya Manda.
"Gladys itu..., sebaiknya kamu dengar saja, deh, Manda! Begini," disela-sela tangisku, akhirnya aku mampu juga berbicara....

*******
Aku meratap langit memandang awan dengan Gladys.

"Dik, menurutmu, awan itu kayak apa?" tunjukku pada sebuah awan yang menurutku mirip mahkota. Wah, sangat indah, apalagi kalau asli!

"Kayak donat!" jawab Gladys. Oh, beda jauh dengan dugaanku! Gladys...Gladys, gadis itu tampak chubby di mataku. Rambutnya sepunggung. Aku mencubit pipinya.

"Ih! Gladys..., apa yang kau pikirkan itu makanan melulu, deh!" kataku sambil menyikutnya.
"Ih, Kakak..! Kakak juga doyan donat, kan?" kata Gladys membuatku nyaris tertawa kencang. Dia mengayunkan ayunannya setinggi mungkin.

"Aku mau menggapai awan kak, bisa enggak, sih? Terus, kalau Gladys liat di TV-TV gitu, kak, misalnya di Tom Jerry, aku liat awannya bisa dipegang!" kata Gladys.

"Wah, itu mah, hanya kartun. Awan, enggak bisa dipegang," kataku. Kalian bisa menebak, kan, statusku dan Gladys. Yap! Kakak adik. Umurku 9 dan dia 4, selisih kami 4 tahun sebetulnya. Tapi aku baru ulang tahun minggu lalu.

"Kak, aku pernah buat awan jadi gulali, tapi di mimpi, sih," kata Gladys sambil memandangku. "Kak, kalau aku punya adik lagi, kakak mau, enggak?" tanyanya.

"Enggak, ah! Punya adik dua saja ngerepotin, apalagi 3! Wadaw," kataku pura-pura jatuh. Gladys langsung cemberut dan memandangku.

"Jadi aku ngerepotin, ya?" tanya Gladys.
"Enggak...," kataku.
"Huuu, Kakak," kata Gladys. Aku hanya tersenyum.

Esok paginya, aku dan Gladys sholat. Agar terbiasa sampai besar nanti. Saat aku selesai membaca doa buat kedua orang tuaku, Gladys masih membaca doa. Cukup lama, 10 menit kemudian Gladys datang.

"Lama sekali, Dys, doanya?" tegurku pada adik tercintaku itu. Manda yang masih 1 tahun tampak digendong Bunda. Aku menyisir rambutku. Memang Sabtu yang indah!

"Aku doanya banyak, Kak!" kata Gladys. Wah, anak yang berbakti, batinku. Pasti doa buat aku, ayah, dan bunda, batinku.
"Doa buat siapa aja, Gladys?" tanyaku pada Gladys sambil menuju balkon. Suasana yang indah, matahari belum benar-benar menampakkan cahayanya. Sangat cantik!

"Buat siapa aja? Aku doa buat dapat permen segudang, Kak!" kata Gladys. GUBRAK! Rasanya mau jatuh aku, doa buat dapat permen segudang? Cuapee deh!

"Nanti sakit gigi, lho!" kataku pada Gladys.
"Kan, nanti aku bisa gosok gigi," jawab Gladys.
"Kalau masih sakit?" tanyaku.
"Aku enggak tahu!" kata Gladys dengan nada genit, aduh...!

Aku mencubit pipinya.
"Aw!" pekik Gladys membuatku tertawa. "Sakit, tau...," kata Gladys balas mencubitku.
"Ih, Gladys!" kataku gemas.

Beberapa hari kemudian....
Rumah sepi..., pada kemana, sih? Tampak Bi Nur masih memasak.

"Bi, mana Ayah dan Bunda?" tanyaku.

"Manda sama Gladys juga mana?" tanyaku heran.
"Bibi enggak tahu!" jawab Bi Nur.

"Tadi, Bu Ratna sama Pak Andi bilang, mau jalan-jalan dulu. Enggak tahu, kalau enggak salah, habis Gladys pulang, mereka langsung pergi," kata Bi Nur.

"Wah, enggak biasanya itu!" batinku. Tiba-tiba lagu Berkibarlah Bendaraku berbunyi dari HP-ku. Aku mengangkatnya. Tampak tulisan: MOMMY CHAYANK. Hehehe..., lebay, ya, kawan-kawan? Namun itulah aku! Si gadis lebay dari khayangan... Ya enggak, lah!

"Halo, Bun?" kataku.
"Lar, kamu di rumah sama Bi Nur dulu, yah... Bunda sama Ayah lagi di Jakarta. Pulang jam 10, enggak masalah, kan?" tanya Bunda.

"Enggak masalah!" jawabku. Huh, besok Jum'at dan libur, karena guru-guru sedang rapat. "Bun, besok aku libur, loh!" ceritaku.
"Oh, ehm, besok Bunda dan Ayah mau cerita. Tapi, ingat, walau libur esok, tidur tetap jam setengah sepuluh, ya?" kata Bunda.
"Oke!" jawabku.
Aduh, Bunda..., biarpun pergi, kenapa peraturan masih menempel di sini, sih?

Esoknya...

"Bunda! Kemarin kemana, sih? Takut tahu di kamar sendiri! Maksudku, di kamar Bunda enggak ada siapa-siapa gitu," kataku sambil memeluk erat-erat bundaku.

"Sayang..., apakah ini terlalu berat untukmu? Kemarin, Bunda ke rumah sakit," kata Bunda sambil mengajakku ke halaman. Bunda dan aku duduk didekat kolam buatan dengan ikan-ikan yang lucu.

"Ayah sakit? Bunda hamil? Aku enggak mau punya adik lagi...! Mimpi buruk!" kataku sambil manyun.

"Bukan! Kemarin, sepulang sekolah, Gladys rupanya pingsan kata gurunya. Makanya pulangnya lebih cepat daripada dulu. Bunda kemarin ke Jakarta buat ke rumah sakit. Soalnya di Bekasi rumah sakitnya pada tutup terus jalannya macet banget. Pas diperiksa, apakah ini terlalu berat, sayang?" kata Bunda sedih. Aku menangis sebelum mendengar berita itu. Gladys adalah sahabatku!

"Gladys ternyata terkena tumor otak. Bunda kira penyakit itu terlalu muda untuknya atau dokternya bercanda. Tapi ternyata ini serius! Penyakit apapun bisa terkena diusia manapun, sayang. Kamu mengerti?" kata Bunda. Oh, apakah aku harus menangis? Menangis, tidak, menangis, tidak... MENANGIS! Aku menangis...

"Sayang, Bunda mengerti bahwa Gladys sahabat terbaikmu seumur hidup," kata Bunda mengelus rambutku. Gladys...pergi? Oh, aku belum bisa kurelakan! "Sayang, Gladys bisa hidup. Tapi, jika takdir berkata lain, tidak apa, kan?" kata Bunda.

Aku belum bisa menjawabnya. Aku masih menangis, air itu sangat deras. Semut, maafkan aku, ya, negaramu jadi kehujanan! Tapi aku harus menangis!

Beberapa minggu kemudian...
Senin itu, aku asyik belajar sampai bundaku menyuruhku pulang. Aku pun menyalimi guruku dan segera menuju rumah sakit tempat Gladys dirawat.

"Kenapa Bun?" tanyaku.
"Penyakit Gladys sudah parah!" kata Bunda.

Aku menangis kencang, tak mau berjalan. "Sayang, ayolah..., kita harus melihat kondisi Gladys!" kata Bunda.
Aku dengan berat menghapus air mataku dan pergi menuju rumah sakit. Tit.......

Terlambat sudah.... Semua itu hanya tinggal kenangan. Sahabat terbaikku kini hanya tinggal kenangan...Dia sudah pergi...
Aku belum rela melepaskannya! Kenapa harus direlakan? Kenapa? Kenapa sosok polos Gladys harus meninggalkanku? Aku merasa dia sekarang mengobrol denganku. Tapi, nyawanya dialam lain. Mengapa bisa aku mengobrol?

Manda..., dia belum mengerti apa-apa, dia hanya menunjuk-nunjuk Gladys. Saat dimakam Gladys.., aku belum bisa merelakannya! Aku memegang nisan Gladys. Oh, jangan menangis.. Bagaimana dialam sana dia tidak tenang?

Aku harus mampu, ya, harus mampu! Aku harus mampu dapat meninggalkan Gladys... "Gladys..," tangisku. Tak bisa kubayangkan sosok yang polos itu telah pergi dari pandanganmu dalam usia 4 tahun.

Ya, pergi dalam usia 4 tahun. Sesampainya dirumah, aku ingat. Dia pergi 1 hari sebelum ulang tahunnya. Sekarang sudah Juni. Besok, ulang tahunnya. Kasihan Gladys, meninggal saat akan bertambah usia esok..

*******

Aku menutup kisahku dengan tangisan. Manda melihatku sedih. "Jadi, Gladys yang sering kakak renungkan itu, kakakku?" tanya Manda. Sampai usiaku 12 tahun ini aku belum mampu menghilangkan nama GLADYS dari hatiku. Dia diurutan ketiga sehabis Allah, dan kedua orangtuaku, namanya paling besar.

Hati ini belum mampu menghapus nama GLADYS. Bagaimana pula, dia sahabat terbaikku! "Gladys...," kataku menangis. Manda mengerti, tidak sepantasnya dia bertanya....

"Maaf," kata Manda.
"Kamu enggak salah!" kataku tersenyum. "Nah, mau lanjutkan bermainnya?" tanyaku.
"Yuk, Kak! Waktunya habis, nih, sebelum kakak renungin Kak Gladys. Ups! Maaf, yuk!" kata Manda.
"Aku sudah mengorbankan banyak air mataku untuknya. Pasti aku mampu merelakannya, kok!" kataku dan menarik Manda ke dalam. Gladys, apa kau lihat kami? Semoga saja...

Rizqia Amani
Rizqia Amani

52 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG