Home - Klinik Cerita
Klinik Cerita
Minggu, 08 Juli 2012
Sandal Karet Kakek

Sandal Karet Kakek

Besok kakek akan datang. Semalaman Firdha tak bisa tidur. Membayangkan ayah papa yang berpenampilan sederhana itu. Berkaos oblong lusuh, celana hitam lebar seperti tukang sate dan bersandal karet.

Firdha gak habis pikir kenapa kakek suka sekali memakai sandal karet. Lebaran yang lalu mama telah menghadiahkan sandal kulit yang bagus dan mahal tapi kakek tetap memakai sandal karetnya. Mengapa kakekku tak seperti eyang kakungnya Sela? Yang selalu berpenampilan rapi dengan jas dan sepatunya. Masih kuat nyetir mobil sendiri dan memimpin perusahaan keluarga.

Terus terang Firdha malu pada teman-temannya. Apalagi besok teman-temannya akan kumpul di rumahnya untuk kerja kelompok.

“Fir...Firdha, bangun sayang,” terdengar suara mama mengetok pintu kamarnya. “Sudah siang, kamu gak sekolah?” tanya mama lagi.
“Iya, Ma....,” Firdha menyahut sambil mengucek matanya. Gara-gara memikirkan kedatangan kakek, larut malam Firdha baru tidur. Sekarang terasa masih ngantuk sekali. Jam dinding telah menunjukkan pukul 6 lebih. Langsung saja, Firdha lompat dari tempat tidurnya dan pergi mandi. Hari ini dia piket, harus datang lebih awal. Kalau terlambat bisa dimarahi Bu Rina guru kelasnya.

***

Firdha lari berangkat sekolah. Untung jarak rumah dengan sekolah tak begitu jauh. Masih setengah tujuh, masih ada waktu untuk menyapu kelas. Bersama dengan Nila dan Vera dia merapikan meja dan kursi. Sela membersihkan papan tulis. Sebelum bel berbunyi semuanya telah selesai. Mereka berempat bergegas menuju halaman sekolah untuk mengikuti senam pagi.

“Pulang sekolah jadi ke rumahmu, kan?” tanya Nila pada Firdha.
“Hm...eh, iya...,” Firdha menjawab tanpa semangat.
“Kamu kenapa, Fir. Sakit?” Vera heran melihat sahabatnya.

“Gak apa-apa. Aku sehat-sehat saja,” Firdha tak ingin kedua sahabatnya tahu kegelisahannya. Sela memandanginya tak percaya. Sepertinya ada yang disembunyikan Firdha.

Sepulang sekolah, Nila, Vera dan Sela ikut pulang bareng Firdha. Mereka sudah sepakat untuk tak pulang dulu agar tugas kelompoknya segera selesai. Sampai di rumah Firdha, tampak mama Firdha menyambut di depan pintu.

“Ayo masuk, anak-anak.... tante telah masak sup kacang merah, perkedel kentang dan ayam crispy. Setelah sholat silakan menyantap masakan tante,” kata mama Firdha.

“Siip...trima kasih, tante...,” jawab mereka serempak.

***

Saat mereka sedang makan siang tiba-tiba terdengar mobil berhenti. Terlihat papa Firdha turun sambil menuntun seorang kakek. Ya benar, itu kakek Firdha yang baru saja datang dari desa. Kakek naik kereta api dan papa menjemputnya di stasiun.

“Assalamu’alaikum.....,” kakek mengucap salam pada seisi rumah.
“Waalaikum salam...,” jawab semuanya. Mama Firdha bersalaman dan mencium tangan kakek. Mama sangat menghormati kakek. Ternyata kakek banyak membawa oleh-oleh. Ada pisang, nangka dan ketan. Mama segera membawanya ke belakang.

“Fir..., itu kakek datang,” mama menyuruh Firdha agar bersalaman dengan kakek. Ketiga sahabatnya mengikutinya.
“Makan, kek,” Sela menawari kakek untuk ikut makan. Firdha cuma diam saja.
“Kalian saja dulu...kakek sudah makan tadi di restorasi kereta,” jawab kakek.
“Firdha kenapa? Kok cemberut gitu?” tanya kakek.

“Gak suka kakek datang? Itu kakek bawa oleh-oleh yang banyak untukmu. Bagikan juga ke teman-temanmu,” kata kakek.
“Iya kek, makasih,” Firdha masih belum bisa menyembunyikan kegelisahannya.
“Enak ya Firdha masih punya kakek. Kedua kakekku sudah meninggal,” kata Nila
 

“Aku masih punya satu kakek, tapi sudah setahun terakhir ini beliau sakit stroke gak bisa kemana-mana,” sambung Vera.
“Tapi kakekku tak seperti eyang kakungnya Sela,” keluh Firdha.
“Maksudmu..?” tanya Sela.

“Eyang kakungmu kan penampilannya rapi, pakai jas, bersepatu, bisa nyetir mobil, pemimpin perusahaan lagi. Tidak seperti kakekku yang cuma petani sederhana. Lihat saja penampilannya. Dan sandal karetnya itu bikin aku malu sama kalian....,” Firdha menunduk sedih.

What ..!!!” teriak ketiga sahabatnya serempak.
“Firdha..Firdha.., beliau itu kakekmu. Beliau sangat sayang padamu. Seperti apapun penampilannya tetap kakekmu. Kamu harus bersyukur masih punya kakek. Tidak sepertiku,” Nila menggeleng-gelengkan kepalanya tak memahami apa yang ada dalam pikiran Firdha, sahabatnya.

“Jadi, ini yang membuatmu aneh sejak pagi?” tanya Vera.
“Kamu takut kami akan menertawai kakekmu?” sahut Sela.
“Tidak akan, Firdha. Kami malah senang bertemu kakekmu dan mendapat banyak oleh-oleh,” sambung Sela lagi.

***

Setelah selesai mengerjakan tugas kelompok mereka diajak ngobrol di teras belakang bersama mama, papa dan kakeknya Firdha. Kakek bercerita tentang sawah dan ladang yang digarapnya. Sapi-sapi peliharaannya. Juga kenapa kakek suka sekali memakai sandal karet. Karena sandal tersebut bisa dipakai kemana saja, termasuk ke sawah dan ke ladang. Juga ke pasar ketika kakek harus menjual hasil sawah dan ladangnya. Sandal karet tidak basah terkena air. Harganya murah tapi awet. Dari hasil sawah, ladang dan beternak sapi, kakek mampu membiayai papa Firdha hingga lulus kuliah dan sukses seperti sekarang. Mendengar semua itu Firdha merasa bersalah.

***

Malamnya, Firdha datang menghampiri kakek dan memeluknya.
“Maafkan Firdha,kek,” Kakek bingung dengan sikap cucu kesayangannya.
“Ada apa ini, kok tiba-tiba minta maaf,” kakek memandangi wajah Firdha. Firdha tak berani bercerita pada kakek. Tapi yang jelas kini Firdha sangat bangga pada kakek. Dalam hati Firdha berjanji akan menyayangi kakek dengan tulus. Satu-satunya kakek yang masih dimilikinya.

 “Liburan semester ini Firdha ke desa ya, kek,” pinta Firdha. Kakek tersenyum lebar tanda setuju.
“Kamu juga boleh mengajak ketiga sahabatmu,” kata kakek.
“Betul, kek?” Firdha sangat senang. Dia ingin pagi segera datang agar bisa menyampaikan kabar gembira ini pada ketiga sahabatnya.

nih fotoku. cantik kan aku? lucu kan? tentu dong.
Alinda Putri Dewanti

2 Artikel

Score : 5.5
Beri Score :
blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG