Home
Trash
Jumat, 03 Mei 2013
Minta Angpao, Dong...

Minta Angpao, Dong...

"Mmm, kayaknya mienya bakal enak, deh, Pa!" pujiku pada Papa yang sedang memasak mie.

"Awas hati hati Vika keciprat minyak, ya," nasihat Papa.
"Nika! Tolong bantu menaruh mie di mangkok," pinta Papa, pada adikku Nika.
"Oke, Pa!" katanya.

Sementara itu, aku hanya celingukan di dapur melihat mereka memasak. Sementara Mama sedang beres-beres kamar mandi. Akhirnya, aku siapkan saja alat makannya. Seperti sumpit dan sendok panjang. Setelah mienya selesai...
"Asyik! Mie tahun baru!" sorakku dan Nika berbarengan.

Kami semua pun memakan mie dengan lahap. Mienya enak sekali! Mie tahun baru bikinan Papa memang MAKNYUSSS!!!

"Mie buatan Papa enak, ya?" pujiku sambil melahap mieku.
"Itu karena Papa suka makan," jawab Papa sambil tersenyum.
"Aku juga suka makan! Tanggal 1 Januari nanti, aku mau nonton film terbaru di bioskop bersama Yuni dan Merry. Terus habis itu beli triple scoop di Banner Ice. Nah, terus makan chicken steak di Steak Mania, discount 50% khusus pelajar. Habis itu, beli cupcakes di Hardness Cakie (baca hardnes keki). Terakhir, jadi shopaholic di Rainbow Stationary," jelasku puaanjaaang lebarrr.

"Huh! Mewah amat! Memang punya duit untuk itu?" timpal Nika.
"Of course ! Kan, ada angpao!" balasku sambil tersenyum menyeringai.

"Besok aku dapat angpao, kan, Ma?" lanjutku.
Mama menaruh jusnya, "Nika dapat Rp300.000,00..."
"Aku sama, kan?" tanyaku deg-degan.
"Vika dapat Rp30.000,00," jawab Mama santai.

Lantas semuanya pun kaget, termasuk Cika adikku yang baru berumur 4 tahun.

Hah?! Nggak mungkin! Pasti aku salah dengar.

"Ci..cika dapat tiga puluh ribu? Bukan aku, kan?" tanyaku tergagap.
"Betul, kok.Vika dapat tiga puluh ribu," kata Mama sambil menyuapi Cika.

Aku merasa angin topan menerjang badanku, nggak mungkin! Pasti ini mimpi. Aku merasa sangat sakit hati pada Mama.
"Mama jahat! Aku tau Mama lebih sayang Nika, tapi kejam baget! Angpaonya 10 kali lipat dibanding punyaku!"
"Tunggu dulu!" panggil Mama sambil menunjukkan sebuah notes pengeluaran yang sepertinya milik Mama.
"Jangan bilang kau lupa, ya?" nasihat Mama sambil berkacak pinggang.
"A..pa ini semua hutangku?" tanyaku tak percaya.
"Mama, beliin notes ini, dong.Waktu itu awal bulan Oktober, saat itu uang jajan bulananmu sudah habis," cerita Mama sambil menirukan gaya permintaanku.

"Kalau diingat-ingat..iya juga, ya!Aku kan sering minta beliin ini beliin itu," batinku.

Vika jangan sedih...Nih Papa kasih dua ratus ribuan. Mau?" tawar Papa. Wah, tentu saja aku senang, tetapi...

"Papa, Vika harus diajar agar bisa mengurus uangnya dengan baik! Jangan terus-terusan dimanja!" perintah Mama.
"Papa! Kalau begitu aku juga dapat dua ratus ribuan lagi!" tambah Nika. Aku yang tak tahan langsung menggebrak pintu kamarku. Sambil berkata, "Ya sudah! Mama pelit!"

Aku menangis sesegukan di dalam kamar. Kenapa Mama selalu saja melebih lebih, kan, Nika, padahal dia kan adikku. Ini terasa nggak adil. Aku mengingat-ingat kejadian sebelum Cika lahir. Saat itu, aku dan Nika terpaksa tidak masuk sekolah karena menemani Mama di rumah sakit. Namun, saat diberi uang untuk makan...

"Ini untuk uang makan, ya! Gunakan dengan baik!" perintah Mama sambil menyodorkan uang sepuluh ribu dan dua puluh ribu. Ternyata aku hanya dapat sepuluh ribu dan orang itu (Nika) dapat 2 kali lipatnya. Hatiku hancur memikirkan itu. Kenapa kejadian ini mesti terulang?

Bersambung:
Judul selanjutnya Semuanya Kacau Balau!

Naila Jasmine
Naila Jasmine

62 Artikel

blog comments powered by Disqus
Kompas Gramedia Majalah
Copyright © Majalah Bobo, All Rights Reserved 2014.
logoKG